Sudah Sarjana Niat Mau Membangun Desa, Tapi Susah Banget Ini lah 3 Alasannya

Sudah Sarjana Niat Mau Membangun Desa, Tapi Susah Banget Ini lah 3 Alasannya

Nyoret.com “…Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan.”  Tan Malaka.

Kutipan lama dari Tan Malaka itu sangat menohok bagi siapa saja orang yang berpendidikan, tapi  enggan berbaur dengan masyarakat. Namun, seperti selayaknya sebuah kutipan pendek yang tidak bisa merepresentasikan semuanya, kutipan dari penulis Naar de Republiek ini pun seperti itu. Jika dilihat dari kutipan itu, Tan Malaka lupa ada beberapa hal yang membuat pemuda yang berpendidikan tidak melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkulnya.

Di jaman yang dikenal dengan indstri 4.0 atau era disrupsi tidak sedikit anak-anak muda yang kembali ke desa setelah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Mereka membawa motivasi besar untuk membangun desanya dengan segenap kemampuan yang dimiliki. Selepas wisuda mereka sangat bersemangat dan membawa gagasan-gagasan baru untuk turun tangan membangun desanya. Namun, langkah itu tidak lah mudah, meski sudah mengantongi gelar sarjana itu bukan jaminan ia akan diterima dengan tangan terbuka di desanya sendiri.

Ia seolah disambut dengan gagasan-gagasan segar khas anak muda, tapi sambutan itu hanyalah ucapan yang keluar dari bibir sebagai bentuk apresiasi semata. Sarjana baru ini lupa bahwa ada sistem sosial yang sudah tumbuh subur dan mejadi budaya. Meski ide-ide itu murni untuk pembangunan masyarakat, ada satu sistem yang akan merasa terancam dengan pembaharuan yang dibawanya. Saya membagi tiga kelompok masyarakat pengendali sistem sosial di desa, seperti berikut ini:

1# Nasab Yang Bagus

Nasab bagus misalnya dia keturunan sesepuh desa, tokoh masyarakat, dan keturunan tokoh agama. Mereka yang punya nasab seperti ini lah yang menjadi oligarki kecil di desa. Pengaruh keluarga yang diwariskan turun-temurun menjadikan keluarganya terpandang dan disegani di masyarakat. Ia mampu mengendalikan banyak orang karena nilai-nilai kharismatik yang diturunkan.

Baca juga  Bertaut dan Mendarah, Lagu Nadin Amizah yang Setiap Hari Membuatku Berziarah Kepada Bapak dan Mamah

Kendati yang dilakukannya menyalahi aturan, tetap saja mereka akan mengikuti karena ada perasaan takut dan berakibat fatal pada kehidupannya.Kelompok dengan nasab bagus ini pun memanfaatkan privilege nya terhadap semua kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah desa.

2# Banyak Uang

Uang adalah alat pengendali yang paling ampuh di muka bumi, semuanya bisa dilakukan asal ada uang. Begitu pun yang dilakukan oleh elit desa yang bergelimpangan uang. Ia akan berbuat apa saja untuk merentangkan pengaruhnya di desa. Cara yang paling efektif adalah membayar semuanya dengan uang.

Modusnya pun macam-macam, mulai dari penyokong dana terebesar dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan, sampai menyawer biduan dangdut dengan uang ratusan ribu, tidak lain motivasinya agar terlihat loyal. Dari sanalah mereka merebut hati masyarakat, padahal ada udang di balik batu, setiap uang yang keluar dari kantongnya ada banyak hal yang ia harapakan. Pengaruh dan pengakuan di masyarakat mungkin keinginan terbesarnya.

Baca juga: 4 Saran Buat Kamu Yang Mau Nulis Resolusi Tahun Baru

3# Orang Kuat

Orang kuat ini adalah golongan masyarakat yang memiliki kemampuan fisik atau magis yang ditakuti oleh masyarakat. Di desa masih ada orang-orang yang dipercayai sebagai orang berkekuatan, misalnya tidak memapan ditusuk, penyembuh penyakit, dan kekuatan gaib lainnya. Mereka ada yang dikenal sebagai jawara kampung ada juga yang dikenal sebagai orang “pintar”.

Keberadaan tiga jenis kelompok masyarakat desa ini lah yang sering menjadi ujian bagi pemuda-pemuda yang pulang ke desa. Setiap gagasan yang positif akan bertabrakan dengan kepentingan mereka yang sudah mapan. Seperti yang banyak dicatat sejarah, setiap kemapanan akan terganggu dengan ide-ide progresif yang mengancam kemapanannya.

Sekalipun ia gigih melawan orang-orang itu, masyarakat tidak dengan mudah berempati karena budaya yang mereka percayai sudah sangat ajeg. Para pemuda yang tida dibekali ilmu gaib tradisional pun selalu dikelilingi rasa takut jika tanpa diprediksi ada pihak-pihak tertentu yang mengirimkan teluh dan santet. Cara membunuh atau membuat sakit orang tanpa menyentuhnya langsung.

Baca juga  Kisah Warga Ngeyel yang Bikin Kandang Kambing Di Atas Patusan

Harus diakui cara gaib seperti ini masih banyak digunakan di daerah-daerah. Oleh karenanya keberadaan seorang pemuda dengan semangat pembangunan di desanya sendiri tidak serta-merta berjalan sesuai teori yang dipelajarinya. Ada faktor lapangan yang membuat semua kejadian menjadi mungkin.

Baca tulisan Irvan Hidayat lainya: 5 Alasan Produk Lokal Jadi Raja di Tahun 2020 Versi Netizen