Secuil Kisah Tentang Aku dan Pandemi

Secuil Kisah Tentang Aku dan Pandemi

Nyoret.com – Aku masih ingat saat pertama kali mendengar virus corona memasuki Indonesia di televisi dan tengah berada di Bali dengan keluargaku untuk liburan. Aku hanya menanggapinya ringan, dan masih berpikiran positif.

“Ah gak mungkin parah lah”.

“Ah biasa ajalah”.

“Gak bakalan kenapa-napa kok”.

Sebuah pemikiran yang sangat fatal, kurasa.

Perlahan namun pasti, Corona Virus membludak tanpa kenal ampun. Seluruh dunia bahkan sudah mulai kewalahan menanggapinya. Di satu sisi orang mempercayai adanya virus ini. Di lain sisi orang tidak mempercayai bahkan menganggap pengalihan isu akan suatu hal.

Rumah sakit mulai penuh di mana-mana. Satu persatu orang terkena dan dikarantina. Beberapa melewati masa kritis dan sembuh. Beberapa berakhir di liang lahat. Satu persatu keluarga kehilangan orang yang disayangi tanpa bisa melihatnya untuk terakhir kali, karena pembatasan yang ketat. Tanpa bisa berada di sampingnya untuk terakhir kali.

Waktu seolah berhenti, dan dunia seperti kiamat saat itu.

Tidak ada yang boleh keluar rumah. Semua pekerjaan dialihkan menjadi online, begitu pula dengan sekolah dan perkuliahan. Semua pusat perbelanjaan, bahkan tempat beribadah juga ditutup. Hanya supermarket, pasar dan toko obat-obatan yang boleh dibuka karena sifatnya penting. Itupun hanya beberapa saja. Kemudian penggerakan protokol kesehatan dari pemerintah yang ketat, yang kita sendiri bahkan kurang familiar, atau tidak pernah melakukannya. Namun, harus dilakukan demi bertahan hidup.

Bagiku yang seorang introvert, stay at home adalah surga. Tidak perlu panas-panasan di luar rumah, tidak perlu menunggu kereta, dan berdesak-desakan di dalamnya. Bisa bekerja dengan fokus tanpa ada gangguan sedikitpun. Aku juga dapat menghabiskan waktu dengan keluargaku yang jarang kulakukan karena kesibukanku bekerja. Selain itu, aku juga bisa melakukan kegiatan yang ingin kulakukan, namun tertunda. Pokoknya benar-benar menyenangkan.

Sebulan pertama PSBB, aku mulai merasa bosan dan sangat ingin keluar rumah. Namun, berita-berita penyebaran virus corona semakin meluas, menyentuh sudut-sudut kota di Indonesia tanpa terkecuali. Semakin ganas, menakutkan dan mengancam. Lagi-lagi, aku mengurungkan niatku untuk keluar rumah.

 

Hari demi hari kulewati dengan rutinitas yang sama. Kewarasanku mulai berkurang. Emosiku semakin tak terkontrol. Pekerjaan di depan laptop mulai membuatku gila. Belum lagi adanya miskomunikasi akibat sinyal yang kurang bersahabat. Mengobrol dengan teman via chat atau telepon, tidak terasa menyenangkan lagi. Beberapa hal kulakukan agar tetap merasa segar, seperti berjalan-jalan di depan rumah. Yang tidak lagi ada fungsinya.

“Apalagi ya, yang bisa kulakukan agar tetap waras?”

Entah dapat angin dari mana, aku menemukan sebuah website tentang kesehatan mental, yang ternyata sangat menarik untuk dipelajari. Lalu, aku mengikuti beberapa seminar, workshop, organisasi, komunitas, dan relawan yang berhubungan dengan itu. Membuka pintu kepada hal-hal yang tidak ku duga sebelumnya. Aku bertemu dengan teman-teman online baru, mendapatkan perspektif dan ilmu baru, bercerita banyak hal, mendapatkan dukungan dan kepercayaan dari orang-orang yang bahkan belum pernah ku temui in real life. Aku merasakan dampak positif dari itu semua. Aku merasa menjadi lebih baik sebagai manusia.

Hingga sekarang, tahun 2021, meskipun virus corona masih ada, bencana alam masih ada, musibah masih ada, setidaknya ada kabar-kabar baik yang bergema di keseharian. Salah satunya adalah Vaksin yang sudah tersebar di beberapa negara, termasuk Indonesia. Memberikan harapan baru bahwa pandemik kemungkinan akan berakhir kebrutalannya.

Jadi, kalau sekarang ditanya apakah bisa menjaga kewarasan di tengah pandemi, jawabannya: tentu saja bisa. Hanya membutuhkan waktu, dan adaptasi. Penerimaan dan rasa ikhlas dibutuhkan agar kita tetap sehat secara mental, yang akan mempengaruhi fisik kita. Jangan lupa untuk tetap melaksanakan protokol kesehatan, sekalipun kamu tidak percaya Corona Virus. Setidaknya, hal yang kamu lakukan, dapat menyelamatkan satu nyawa.

Yang tak kalah penting adalah, kita hidup sampai detik ini pun, adalah sebuah hal yang harus disyukuri. Aku teringat kalimat dari seorang teman online yang ku temui di salah satu organisasi: Everything shall be pass. Semoga kita semua dapat menjaga kewarasan dan kesehatan sesuai kemampuan diri masing-masing.