Saya Kesal dengan Muslim yang Puasa Setengah-setengah

Saya Kesal dengan Muslim yang Puasa Setengah-setengah

nyoret.com – Gak tahu kenapa, saya kadang suka gemes sama perilaku muslim/muslimah ketika menjalani hari-harinya di bulan Ramadhan. Pertama, kepada muslim/muslimah yang rajin shalat tarawih tetapi tidak rajin berpuasa. Kedua, kepada muslim/muslimah yang rajin berpuasa tetapi tidak rajin shalat tarawih.

Ketiga, kepada muslim/muslimah rajin berpuasa tetapi, puasanya dijalani dengan tidur melulu sampai ketika tiba waktu shalat fardu, seperti subuh, zuhur dan ashar tidak menjalankan shalat fardu tersebut. Keempat, kepada muslim/muslimah rajin makan sahur tetapi setelah makan sahur masih dilanjut tidur lagi sampai akhirnya tidak shalat subuh. Kelima, kepada muslim/muslimah yang rajin berpuasa tetapi rajin ghibah, namimah dan bersumpah palsu.

Pernah suatu ketika pas ngaji bandongan, ketika di pondok pesantren dahulu. Ketika membahas kitabus siyam, Pak Yai menjelaskan dihadapan para santrinya tentang  bab puasa. Bahwa salah satu fadhilah ibadah di bulan puasa. Semua ibadah dilipatgandakan pahalanya. Pahala ibadah sunah dilipatgandakan pahalanya seperti pahalanya ibadah fardhu. Pahala ibadah fardhu dilipatgandakan  menjadi sepuluh yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. 

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak katuri.”(HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151). 

Tetapi ada cerita yang lucu ketika pak Yai menceritakan bagaimana perilaku muslim/muslimah yang rajin shalat tarawih tetapi tidak mau berpuasa Ramadhan dan shalat fardhu di bulan Ramadhan, karena saking mantapnya hingga tak pernah absen ketika shalat tarawih tetapi tidak mau menjalankan ibadah puasa dan shalat fardhu. Maka Pak Yai mengibaratkan orang seperti itu suka memakai ikat pinggang tapi sayang tidak memakai celana. Sontak semua santri terbawa dibuatnya. Dan pelajaran dari Pak Yai tak akan kulupa sepanjang hidupku. 

Dan setelah saya keluar dari pondok pesantren, ternyata benar adanya. Kadang-kadang suka gemes gitu. Masa sih tarawih koq dianggap lebih penting daripada puasa. Jika dilihat dari hukum syariatnya saja jelas lebih tinggi puasa daripada tarawih, puasa Ramadhan hukumnya fardhu sedangkan tarawih hukumnya sunah. Ibadah puasa juga merupakan salah satu rukun Islam, sedangkan tarawih bukan merupakan rukun Islam.

Satu hal yang ingin saya garis bawahi di sini, bahwa ibadah puasa dengan ibadah-ibadah yang lain, baik yang fardhu maupun sunah berfungsi sebagai komplementer (saling melengkapi). Jadi kegelisan saya terkait pemahaman muslim/muslimah,  yang sampaikan diatas adalah benar-benar terjadi baik pengalaman dimasa kecil ketika masih di Taman Pemalang maupun sampai saat ini di Sewon Bantul. 

Yang saya herankan lagi, adalah terkadang kita sebagai muslim ketika melihat muslim merokok di alam terbuka dengan bebasnya klempas-klempus kita disuruh toleransi, menghormati muslim yang tidak berpuasa. Tetapi mereka yang jelas-jelas tidak melakukan kewajiban puasa Ramadhan, dimanakah rasa toleransinya. Ini dalam konteks inter-umat beragama. 

Bahkan dibutuhkan  kesabaran tingkat tinggi, ketika ada muslim yang mokah dengan alasan tidak kuat melanjutkan puasanya sampai maghrib, terang-terangan makan di depan kita sambil ngeles begini, “ semoga yang masih menjalankan ibadah puasa dilibatkan gandakan pahalanya  dikarenakan kita sudah mengiming-imingi makanan di depannya .”

Pernah juga saya mengalami perlakuan begini,  suatu ketika saya mengajak yang seorang  ‘muslim’  untuk tarawih berjamaah di mushala, tetapi diluar dugaan saya, orang itu malah menjawab seperti ini, “ tarawih kan sunah, jadi kalau sunah boleh dilakukan boleh juga tidak dilakukan. Kalau dilakukan kita mendapat pahala, tetapi kalau tidak kita lakukan kita tidak mendapatkan apa-apa.”

Memang benar kata Gus Dur,” gitu aja koq repot.” Mending ditinggal ngopi aja mumpung sudah waktunya buka puasa dan belum masuk imsak. Oh ya, ibarat memakai ikat pinggang tetapi tidak memakai celana pernah juga aku jadikan materi kultum (kuliah tujuh menit) ketika saya ‘ngodama’ di masjid/mushala binaan Kodama (Korp Dakwah Mahasiswa) Krapyak Yogyakarta.

 

Baca juga  Mengenang Puasa Ramadhan di Masa Kecil yang Tiada Duanya

BACA JUGA Perjuangan Saya Puasa Saat Kecil, Meski Sakit Tetap Puasa Sampai Maghrib dan artikel Junaedi lainnya