Ramadhan Adalah Bulan Yang Menyeramkan Bagi Santri Seperti Saya

Ramadhan Adalah Bulan Yang Menyeramkan Bagi Santri Seperti Saya

Nyoret.com – Jika anda berharap saya salah menulis judul di atas, mohon maaf saya benar-benar sengaja menulis judul tersebut. Sebagai santri saya benar-benar tau akan apa yang saya tulis.

Baik, sedikit tentang santri. Santri adalah sebutan untuk para pelajar agama Islam di Indonesia. Ya, saya pikir semua orang tau akan hal itu. Biasanya santri akan menghabiskan tiga hingga enam tahun hidup di Pesantren untuk menuntut ilmu agama.

Selama di pesantren santri akan dididik kedisiplinan, kejujuran dan segala bentuk kebajikan di dunia dan akhirat. Subhanallah. Dan yang paling utama, yang tidak mungkin terlewatkan, santri belajar ilmu agama Islam. Dimulai dari cara bersuci (ibadah) hingga cara bercinta bermasyarakat (muamalah) pun mereka pelajari.

Sehingga tidak heran jika kembali dari belajar dari pesantren mereka dihormati sebagai orang yang alim lagi arif bijaksana. Tidak jarang para emak-emak mengidolakan mereka menjadi menantunya.

Yaaaahh, itulah enaknya jadi santri. Dihormati dan idaman para mertua.

Biasanya nih yah, para santri akan pulang di bulan Ramadhan. Mereka akan kebagian banyak job sebagai penceramah lah, imam lah, bilal lah, hingga ke bagian yang kalau dipikir-pikir semua orang bisa melakukannya, azan dan iqomah.

Hebatnya lagi tidak jarang mereka dikasih – dan ini yang ditunggu-tunggu – “salam tempel” selepas melaksanakan tugas yang diberikan masyarakat. Memang bulan puasa layaknya syurga bagi para santri.

Ettss, tunggu dulu!!!

Yang saya sebut barusan adalah gambaran idealnya seorang santri. Apakah semua terjadi seindah itu? Tentu tidak Ferguso.

Masyarakat kita adalah masyarakat streotipe. Mereka terbiasa menghukum sesuatu hanya dari sampulnya saja. Kalau sampulnya emas intan permata, maka dalemannya juga begitu. Begitu juga sebaliknya.

Mereka tidak tahu bahwa ada banyak jenis manusia di dalam institusi yang disebut pesantren itu. Calon ustad, tentu saja ada dan mereka merupakan golongan minoritas di pesantren. Sisanya (di mana saya termasuk di dalamnya)adalah  para pelajar yang sebenarnya gak paham-paham amat soal agama, yang gak jago-jago amat berceramah apalagi disuruh imam taraweh. Bahkan tidak berlebihan jika ada banyak bibit preman di pesantren.

Jika menginginkan kebaikan yang umum di pesantren, maka hal tersebut adalah fakta bahwa kami sangat menghormati guru kami. Bagi kami, hanya kami lah yang boleh menyusahkan para ustad, para guru dan para kiyai. Jika ada selain kami yang menyakiti kiyai, maka kami siap berada di garda terdepan.

Nah, sebagaimana santri Si Calon Mertua, Si Mayoritas ini juga pulang kampung saat bulan puasa tiba. Kami tersebar di seantero negeri. Siap menjadi semi sampah masyarakat. Kami berlindung dibalik jubah kebesaran santri agar tidak benar-benar menjadi sampah masyarakat.

Namun, sayangnya masyarakat tidak mau tau hal demikian. Yang mereka tau adalah santri ya harus pandai mengaji. Sama seperti anggapan bahwa bajak laut ya harus pandai berenang. Ups, melebar kejauhan, ya.

Kami tentu kelabakan ketika datang permintaan menjadi imam sana sini. Mereka tidak tau betapa hanya cara memasang sarung lah yang kami tau. Kami tidak tau cara membaca doa apalagi cara berceramah.

Memang ada yang berhasil menghadapi cobaan ini dengan memaksa diri menghafal doa-doa dan ayat pendek. Supaya jika ada yang mendadak minta dibacakan doa atau imam taraweh mereka siap melaksanakan tugas layakanya santri idaman. Tapi lagi-lagi mereka cuma segelintir. Mereka hanyalah minoritas dari kelompok Si Mayoritas.

Ayo lah pak, buk. Kami memang memiliki baju putih yang sama, serban kami sama, cara memasang kain sarung kami juga sama. Tapi otak kami tidak sama. Tidak semua dari kami yang berotak ustad. Sisanya terdapat otak teknisi di balik serban itu, otak sejarawan, otak arsitek, otak seniman dan masih banyak lagi.

Tenanglah! Di pesantren memang kami tidak begitu mengerti ilmu agama. Tapi kami sudah tau cara menghormati orang tua dengan baik, kami sudah tau acara hidup mandiri yang tidak menyusahkan orang tua dan jika kami teresat nanti kami sudah tau ke arah mana kami harus kembali.

Saya mewakili santri mayoritas mohon perhatiannya kepada bapak agar mengerti keadaan kami. Agar bulan Ramadan kali ini tidak menjadi bulan yang menyeramkan bagi kami.

Baca juga Benarkah di Pesantren Ada Gay, Ini 3 Hal Tentang Santri yang Jarang Diketahui dan tulisan Ubaidillah lainnya