Perbedaan Menjadi Penghalang

Perbedaan Menjadi Penghalang

Nyoret.com – Dahulu, ada seorang anak kecil yatim piatu yang tinggal di gubuk tua bersama Neneknya. Mereka dikucilkan oleh orang yang ada disekitarnya, dikarenakan mereka sangat miskin dan sederhana. Kehidupan mereka jauh dari keramaian kota. Mereka hidup dengan memanfaatkan segala hal yang ada di sekitarnya misalnya, mencari makan yang bisa dipetik dari pepohonan sekitar rumahnya. Mereka tinggal di bukit yang dipenuhi dengan pohon-pohon rindang atau semacam hutan di sampingnya. Meskipun mereka hidup dengan cara itu, mereka tetap bahagia dan selalu bersyukur kepada Allah Yang Maha Esa karena sudah diberi nikmat kesehatan dan keamanan. Sebut saja Aisyah, seorang gadis kecil cucunya si Nenek tua itu sedang bermain turun dari bukit untuk mencari suasana baru, kerena sudah bosan bermain digubuknya itu. Dan pada saat itu pula ada segerombolan anak-anak seumuran dengan Aisyah bermain dekat balai desa. Lalu mereka menghampiri Aisyah dan mencacinya karena mereka tidak suka dengan Aisyah yang kotor, jelek, dan bau lagi.

“Hei ngapain kamu main ke sini?” kata salah satu gerombolan anak jahil itu.

“Saya ingin bermain dengan kalian” kata Aisyah

“Tak boleh ini bukan daerahmu, tempatmu di sana di atas bukit”

“Apa salahnya kalau saya main di sini bersama dengan kalian” kata Aisyah

Salah satu dari mereka menjawab “tidak boleh, apa kamu tuli di sini bukan tempatmu bermain, kalau kamu bermain di sini maka tempat ini akan menjadi bau dan kami akan ikut-ikutan miskin”.

“Iya betul sana kamu pergi” kata anak perempuan yang ikut bersama si gerombolan anak-anak jahil itu.

Pada saat yang bersamaan pula datang seorang perempuan dewasa yang ternyata itu Ibu dari salah satu anak-anak jahil itu. Dan bilang si anak ke Ibunya

“Ibu lihat tu si anak kotor dan miskin ingin bermain dengan kita, dan aku gak mau itu Ibu”

Lalu si Ibu menjawab “Ya sudah biar Ibu usir nak”

“Sana kamu pergi, kamu gak layak ada di sini, kamu tidak selevel dengan anak-anak ini” kata si Ibu itu kepada Aisyah.

Aisyah langsung nangis sekencang-kencangnya dan sangat sakit hati dengan ucapan Ibu itu. Lalu Aisyah langsung pergi dan lari menuju gubuk tua itu. Si Aisyah bercerita semua kejadian hari ini kepada Neneknya.

“Nenek!” kata Aisyah sambil tersedu-sedu dipangkuan Neneknya.

“Ada apa Aisyah cucu Nenek” dengan nada suara yang serak-serak disertai dengan batuk-batuk Nenek itu langsung menjawab.

“Tadi Aisyah dicaci maki sama anak-anak di balai desa dan juga Ibu dari salah satu anak jail itu nek”

“Kenapa kamu dicaci maki Aisyah” kata si Nenek tua itu

“Dia bilang kalau Aisyah gak pantas bermain dengan mereka nek, mereka bilang kalau derajat kita tidak sama dengan mereka”

“Gak usah nangis nak, jangan diambil hati biarlah orang lain membenci kita asalkan kita tetap sehat dan bahagia dengan hidup kita ini nak , dan jangan lupa berdoa kepada Allah ya?” kata si Nenek

“Iya nek, Aisyah gak nangis lagi kok”. Aisyah mau sholat Ashar dulu ya nek. Kata Aisyah ke Neneknya

“Iya nak, cepat sana” kata Nenek.

Aisyah sudah tidak nangis lagi karena sudah dihibur oleh Neneknya.

Sehingga pada suatu hari dia berniat untuk mencari pekerjaan yang sekiranya sesuai dengan usianya. Aisyah tidak mau ada yang mengejek dia lagi karena miskin dan jelek. Dia selalu berdoa pada Tuhan untuk mengabulkannya.

“Ya Tuhan, aku pengen banyak uang, biar bisa membeli pakaian yang bagus buatku dan Nenekku, aku juga pengen membeli mainan seperti teman-teman yang selalu mengejekku. Aminnnnnn”

Setiap sholatnya dia selalu bermunajat seperti itu, dan pada akhirnya diketahui oleh Neneknya, lalu berkata:

“Kenapa kamu nak, kan Nenek selalu  bilang untuk selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah kekita. Tidak usah mendengar omongan dan cacian orang  lain”

“Aku tidak mengeluh nek, aku hanya berdo’a supaya Allah untuk mengabulkan keinginanku” ucap Aisyah pada Neneknya

“Apa yang kamu inginkan nak?” tutur sang Nenek pada cucunya

“Aku ingin banyak uang nek, supaya beli pakaian dan mainan” kata Aisyah

“Baiklah kalau begitu, ayo bantu Nenek menjual sesuatu dari alam sekitar ini!”

“Bantu apa nek?, dan apa yang mau di jual, kita tidak punya apa-apa?”, isak tangis dari sang cucu Aisyah

“Tak usah nangis nak, kita manfaatkan barang bekas seperti botol yang tidak bisa dipakai, plastik-plastik yang masih utuh untuk dijadikan tas, bunga dan vas. Kita tak usah mencari yang mewah, asal bisa dimanfaatkan orang itu sudah cukup. Lalu hasilnya bisa kita jual ke pasar dengan harga murah tapi hasilnya menawan. Jadi cucu Nenek bantu untuk mencari barang bekas yah, dan tidak usah malu sama teman-temanmu”  kata Nenek

Dari semangat Neneknya sangat kuat dan penuh keyakinan, akhirnya Aisyah berhenti mengangis dan siap membantu Neneknya. Karena sudah larut Aisyah dan Neneknya tidur dan berharap besok akan berjalan lancer rencana mereka.

Sejak membuka mata Aisyah dan Neneknya melaksanakan misinya, mereka besemangat mencari barang bekas dari pagi sampai siang, dan sorenya dibuatlah sebuah kerajinan yang sangat cantik, sunguh indah karena dibuatnya dengan sepenuh hati dan cinta kasih dari tangan-tangan yang selalu bersyukur pada Tuhannya, dari tangan mungil gadis desa yang terkucilkan, dan dari tangan yang penuh kerutan.

Sehingga suatu ketika, kerajinan tangan mereka sudah banyak laku di pasar, hasil kerajinan tersebut membuat Aisyah sangat bersyukur pada Allah dan sangat senang bisa mewujudkan keinginannya atas bantuan Neneknya dan rasa percaya dirinya.

“Nek, aku senang bisa membeli baju dan mainan yang aku suka, meskipun tidak mahal tapi rasaya sangat senang sekali karena ini hasil kerja kita selama ini” senyum lebar dari si cucu Aisyah

“Iya nak, jangan gampang puas yah dan selalu banyak bersyukur pada Allah, dan yang paling penting jangan membandingkan dirimu sama teman-temanmu, karena setiap orang itu berbeda rezekinya” nasehat si Nenek kepada Aisyah

Meskipun Aisyah sudah sedikit bersih, tidak kotor, dan rapi. Tapi, teman-teman yang ada di sekitarnya tetap saja menjauhinya. Teman-temannya tetap memandangnya miskin, jelek dan tak layak berteman dengan sebayanya. Namun, kali ini Aisyah sangat percaya diri bahwa suatu hari akan ada teman yang sangat tulus mau berteman dan tentu menghargainya. Karena Aisyah sangat yakin Tuhan sangat menyayanginya.

Dari penggalan kisah atau cerita mini ini, ada hal yang harus kita evaluasi diri yaitu rasa syukur kepada Allah atas apa yang sudah menjadi takdir kita. Dan yakinlah Tuhan sayang pada hambanya yang selalu bersyukur pada-Nya.

 

-000-