Life is Hard, Death is Cheap !

Life is Hard, Death is Cheap !

Nyoret.com – Terkadang setiap manusia memiliki sebuah keputusan yang di peroleh hasil dari apa yang dialami, namun tak banyak manusia yang mengalami keputusan hasil yang tanpa persiapan lebih dan matang, perihal urusan itu berhasil atau tidak berangkatlah dari proses
yang dialaminya, ternyata memang proses hidup manusia berbeda-beda tidaklah sama dengan satu manusia lainnya. Namun pernah terbesitkah bahwa manusia memiliki kebebasan untuk menginginkan setiap hasilnya sama dengan manusia lainnya, dan akhirnya hanya sebuah keterpurukan yang ada, merasa bersalah dan gagal setiap apa yang direncanakannya, namun pernah terpikirkan bahwa planning dari awal menginjakan kehidupan tersebut perlu di pikirkan, karena memang benar adanya setiap kehidupan yang ada harus di planningkan sejak awal, dan jika tidak di planningkan maka hasilnya pun buruk dan tidak berjalan dengan harapan semua orang.

Terkadang kalimat seperti mengikuti arusnya tidaklah sesuai dengan fitrahnya manusia. Yang mana akhirnya setiap jalan yang di peroleh stuck begitu saja terkadang rasa tanggung jawab perlu dimiliki oleh setiap manusia agar mampu melihat dan memperoleh setiap usahanya dengan maksimal tidak setengah-setengah. Terbesit dalam pikiran apa yang dimiliki tidak berguna, yang berarti tubuh ini hanya pemilik semesta, dari seperti sahabat, organisasi, bahkan teman terdekat pun hanya berlalu dengan pembicaraan mendesak bukan
memberikan ketenangan, namun salah jika hidup manusia tanpa bergantung dengan sesama manusia, karena firahnya manusia memberikan kerepotan terhadap manusia lainnya, secara tidak sadar manusia sendiri penuh kehampaan dari setiap urulan tangan manusia lainnya diperolehnya dengan baik bahkan diacuhkan begitu saja.

Namun pernah berpikir dan merenungkan dari pikiran kosong begitu hati yang hampa, bahwa manusia hanya menjadi
beban tanpa meringankan manusia lainnya, kata seperti manfaatkan dan dimanfaatkan sudah sangat biasa dikalangan manusia karena tanpa dua kata tersebut yang di sebut dengan kepentingan tidaklah pernah hadir atau datang.

Baca juga  Kata Senja

Terkadang manusia lebih memilih untuk menjadi manusia so peduli dibanding dengan manusia so baik, karena pada dasarnya manusia sifatnya akan terus dipengaruhi oleh berbagai sifat dari internal maupun eksternal, kita ketahui bahwa setiap manusia berhak
memiliki keputusan yang menurut pribadi sendiri baik, tanpa mendapat arahan dari orang lain hanya memperburuk setiap keputusan yang diambilnya, manusia pun tahu bahwa setiap yang diyakini memiliki konsekuensi dan resiko yang pada akhirnya akan menyesali di penghujung hidupnya, namun kita ketahui bahwa manusia cenderung lebih memikirkan hari ini untuk dapat dilakukan bahkan dapat memberikan keuntungan untuk diri sendiri. Jika kata ego lebih tepatnya untuk melengkapi semua yang telah ada pada manusia maka manusia memiliki sekian ego yang besar untuk setiap hidupnya.

Kadangkalanya setiap apa yang dipikirkan menjadi sebuah acuan yang menghantarkan manusia kedepan gerbang kematian, akan tetapi
pernah terbesit dalam setiap inci pemikiran bahwa kematian bukan menjadi sebuah solusi akan semua persoalan manusia yang ada, karena kematian sebuah peristirahatan terakhir dan bukan sebuah solusi, terkadang bagi dirinya sudah selesai namun bagi orang yang
disekitarnya belum tentu akan selesai begitu saja dengan kematiannya, bahkan terpikir oleh lainnya bahwa kematian yang membuat manusia tersebut menjadi pecundang dengan lari begitu saja dari semua persoalannya, tanpa berpikir panjang sepintas terbenak dalam pikirnya yang sudah tidak ada jalan untuk keluar dari setiap masalah yang ada.

Namun percayalah bahwa setiap takdir setiap manusia sudah ditentukan, akan tetapi takdir yang mana yang sudah diputuskan, takdir akan kematian atau takdir akan kehidupan. Dua kata tersebut menisyaratkan bahwa kematian dan kehidupan hanya sebuah perhentian
awal, takdir semacam bagaimana cara hidup manusia? Bagaimana cara manusia menyelesaikan masalahnya? Bagaimana manusia dapat menghasilkan kesenangan atau penderitaan? Itu semua takdir yang ditentukan oleh manusia itu sendiri, karena tuhan tidak berurusan dengan manusia yang hanya menyia-nyiakan hidup untuk sesuatu yang tidak ada peruntungannya dimasa depan.

Baca juga  Refleksi dan Rekonstruksi Cara Berfikir tentang Sejarah

Jika memang manusia hidup dengan cara berpikir semacam itu, maka manusia dapat berdamai dengan dirinya sendiri tanpa harus mengulas masa lalu yang memberi dampak pada kehidupannya, jika memang seperti itu peran tuhan sangatlah penting dalam setiap aktivitas manusia lakukan setiap harinya, akan tetapi manusia lupa bahwa yang membuat hidup ialah tuhan bukan kerja kerasnya sebagai manusia, akan tetapi jika ada pola pikir seperti itu, manusia lah yang berkhianat akan takdir yang tidak dapat
diubah oleh manusia sendiri.

Hati memiliki rasa, pola pikir memiliki sudut pandang, akal memiliki kepastian, indera sebuah tuntunan, semua itu tidak akan berfungsi jika setiap komponen yang ada pada manusia saling bertolak belakang pada manusia itu sendiri, terkadang manusia ingin selalu menang, ingin selalu dihormati, ingin selalu dicintai, ingin selalu mempesona, ingin selalu mendapat kasih sayang. Jika ingin semua komponen yang ada pada manusia berfungis maka berdamailah pada sebuah perbedaan dan menghilangkan ego disetiap kelebihan yang dimiliki komponen manusia tersebut.

Setiap individu memiliki rasa insecure dalam rencana maupun pengimplementasi di dalam gerak untuk mendapatkan ekspektasi yang diharapkan, namun tidak selamanya apa yang diharapkan sesuai dengan tujuan di awal rencana. Entah egois atau tidak mengharapkan sesuatu yang lebih untuk ukuran individu yang sering mengeluh akan sebuah situasi dan kondisi yang mengedepankan perasaan dan itulah kodrat manusia. Melihat orang-orang disekitar kita, mereka punya pandangan dan prinsip hidup yang berbeda-beda. Mereka memunculkan prilaku yang bermacam-macam dengan semua perasaan dan cara berfikirnya masing-masing. Semuanya disebabkan oleh karakter dan sifat yang mereka miliki.

Ketika kita menemui anak yang mungkin sangat berbeda jauh dengan orang tuanya, jangan langsung “Melabeli” anak tersebut atau bahkan membandingkan anak tersebut dengan kedua orang tuanya atau saudaranya. “Ibumu dulu penurut kok kamu gak penurut seperti ibumu malah bandel dan nakal gak ketulungan”. “ Ayahmu itu begini, kok kamu gak bisa seperti ayahmu” “kamu harus belajar yang rajin supaya pandai seperti kakakmu”.

Baca juga  Lelah

Jangan sampai kata-kata semacam itu muncul dari mulut kita sebagai orang tua bahkan sebagai pendidik. Kita harus bisa memahami dan menganalisis lebih jauh bahwa banyak sekali kondisi dan situasi dan membenturkan anak dalam kehidupanya sehingga anak tersebut menjadi “Sesuatu” dan memiliki kecenderungan warna, karakter dan sifat tertentu. Labeli sering sekali mendengar kata itu karena begitu dekat dengan orang tersebut dan mudah sekali mengeluarkan kata perbandingan antara individu dengan kerabat terdekat seperti orang tuanya, dengan mudahnya langsung untuk labeli bahwa dia tidak sama dengan orang tuanya melainkan jauh sekali, tetapi hal itu sudah menjadi habit sehingga bahan lelucon untuk di bicarakan dan tidak mementingkan perasaannya.