Lentera Mimpi

Lentera Mimpi

Nyoret.com – “Aku mengenal mu tanpa sengaja, dan menyayangi mu secara tiba-tiba.”

***

Langkah gadis manis bernama Sari Anandita atau biasa dipanggil Sari bersama ketiga sahabat nya yang  mengarungi sekolah. Langkahnya menyapu pandangan setiap orang. Selain manis, Sari juga seseorang yang pandai. Ia memiliki dua sahabat yang selalu menemaninya yang bernama Lia dan juga Sinta. Mereka bersahabat sejak SMP.

Ketika jam istirahat tiba, mereka pun segera menuju ke kantin. Gemuruh suara terdengar begitu pekat disana. Namun hal tersebut tidak menggangu keseruan makan bersama diantara mereka. Yaps, mereka memesan tiga mie ayam serta tiga es teh manis. Tak lama dari itu, makanan yang di tunggu pun sampai.

Kringg kringgg..

Terdengar dering ponsel Sari. Ia pun melihat ada panggilan masuk dari Ghigan. Ghigan merupakan kekasih Sari yang juga sebagai ketua geng. Sari pun segera mengangkat panggilan tersebut.

“Pulang sekolah aku jemput ya,” ujar Ghigan melalui ponsel.

“Iya,” jawab Sari seraya tersenyum mendengar hal tersebut.

Sari pun segera mematikan ponselnya dan mengabari Lia dan Sinta mengenai hal tersebut.

“Ciee, yang jomblo bisa apa,” kata Lia seraya tertawa kecil menggoda Sari.

“Uwhh.. tenang aja, kan ada gue yang sesama jomblo harus mendukung dong,” kini Sinta angkat berbicara.

***

Sepulang sekolah, terdengar suara motor yang merupakan milik Ghigan. Sari pun pamit kepada kedua sahabatnya yang dibalas dengan senyuman dari mereka. Sari pun langsung menghampiri Ghigan. Namun, ketika Sari ingin menghampiri Ghigan, disisi lain ada ayah Sari yang datang karena sengaja meluangkan waktu untuk menjemput anak kesayangannya. Sari pun nampak kebingungan dan juga kaget karena kehadiran ayahnya yang tiba-tiba saja datang.

Surprise !” seru ayah Sari dengan senyuman lebar di wajahnya menyambut anak kesayangan nya itu.

“Ayah, ngapain kesini?” tanya Sari yang semakin bingung harus bagaimana setelah melihat kejadian tersebut.

“Tentu saja menjemput gadis kesayangan ayah.”

Sari pun melirik ke arah Ghigan yang terlihat kesal. Ia pun berfikir keras agar dapat mengatakan permintaan maaf nya atas kejadian tersebut kepada Ghigan.

“Ayah duluan aja ke mobil, Sari mau pamit sama Lia dan Sinta dulu.” Ujar Sari yang kemudian dibalas dengan senyuman oleh ayah.

Sari pun melambaikan tangan nya ke arah Lia dan Sinta sebagai kode yang disadari oleh mereka. Mereka pun segera menghampiri Sari yang terlihat gelisah dengan kejadian tersebut.

“Gue minta tolong ke kalian, nanti bilangin ke Ghigan kalau gue minta maaf ya.” Pinta Sari.

“Okey,” jawab Lia dan Sinta serentak.

***

Sesampainya di rumah, ayah pun meminta Sari meluangkan waktu untuk membicarakan sesuatu yang kemudian disusul oleh ibu.

Baca juga  Anggapan Benar atau Salah

“Sayang, karena ayah pindah kerja ke luar kota jadi lusa kita pindah ya.” Jelas ayah yang tentu saja kabar tersebut mengejutkan Sari.

“Apa? Lalu bagaimana dengan sekolah Sari?” tanya Sari yang kaget dengan kabar tersebut dan semakin merasa bingung harus bagaimana mengabari Ghigan mengenai hal itu.

“Kamu akan ayah masukkan ke pesantren karena disana ayah punya kenalan yang memiliki pesantren dan ayah juga telah mengurusi perpindahan sekolah kamu sayang.”

Sari tak kuat dengan pernyataan tersebut, entah bagaimana dengan reaksi Ghigan jika mengetahui tentang hal itu. Sari pun bangkit dari duduk nya dan pamit untuk ke kamar.

***

Keesokan harinya, di kantin sekolah Sari pun memberitahu Lia dan Sinta mengenai kabar tersebut. Tentu saja mereka nampak kaget dengan kabar yang dibawa oleh Sari. Sementara Ghigan sejak tadi malam tidak dapat dihubungi. Sari pun berinisiatif untuk pergi menemuinya di tempat ia kumpul bersama geng nya setelah pulang sekolah.

“Pulang sekolah kita temenin ya,” kata Lia yang didukung oleh Santi.

Mendengar hal tersebut tentu saja Sari merasa terharu. Ia tak kuat membendung air matanya dengan kesetiaan kedua sahabatnya itu. Sari sangat senang karena sahabatnya selalu mendukung ia. Namun disisi lain, Sari juga sedih karena harus meninggalkan kedua sahabatnya itu.

***

Sepulang sekolah, mereka pun segera bergegas menuju tempat Ghigan dan geng nya berkumpul. Mereka pergi menaiki mobil milik Sinta yang sengaja dibawanya untuk menghampiri Ghigan.

Sesampainya di sana, nampak banyak sekali teman-teman Ghigan yang sedang asik bermain gitar. Disisi lain, Sari melihat Ghigan yang sedang telfonan dengan seseorang. Sari bersama kedua sahabatnya pun menghampiri Ghigan. Ketika Ghigan menyadari kehadiran Sari, ia pun segera mematikan telfon nya.

“Kamu ngapain kesini?” tanya Ghigan yang tidak menyangka akan kehadiran Sari.

Sari pun meminta maaf dan menjelaskan tentang rencana ayahnya yang akan pindah ke luar kota.

“Kamu yakin mau ngikutin apa kata ayah kamu? Yaudah kalau kamu mau ninggalin aku.” Kata Ghigan yang kemudian pergi meninggalkan Sari.

Sari pun merasa bersalah dan sangatlah sedih. Namun, Lia dan Sinta pun berusaha menenangkannya. Melihat Sari yang begitu sedih, Lia dan Sinta pun berniat untuk mengantarkannya pulang.

***

Sesampainya di rumah, Lia dan Sinta pun pamit kepada Sari. Sari pun memasuki rumah dan segera menemui kedua orang tuanya yang sedang membereskan rumah.

“Ayah, aku tidak mau pindah dari sini.” Ujar Sari dengan tetesan air mata yang masih membasahi pipinya.

“Kenapa sayang?” tanya ayah yang merasa bingung dengan Sari karena  menangis yang tentu saja  ayah tak sanggup melihat gadis kesayangannya menangis.

Baca juga  Life is Hard, Death is Cheap !

“Kenapa aku juga harus pindah ayah? Apakah aku tidak bisa tetap disini?”

“Tapi sayang, jika kamu disini maka kamu akan sendirian karena  ibu akan pindah ke luar kota juga.” Kini ibu angkat bicara yang tentu saja merasa sedih karena melihat gadisnya menangis.

“Aku tidak sendirian Bu, sebab ada Lia dan Sinta yang akan menemaniku disini. Aku mohon Bu, aku ingin tetap disini.” Pinta Sari hingga berlutut di depan ibu nya yang langsung di peluk hangat oleh sang ibu.

“Baiklah ayah akan berangkat sendiri besok, kamu sama ibu akan tetap disini.” Kata ayah yang juga langsung memeluk Sari dan ibu.

Mendengar hal tersebut, Sari pun merasa lega dan sangatlah senang. Ia pun segera menghapus air matanya dan mengucapkan terimakasih kepada ayah dan ibunya yang kemudian pergi menuju kamar. Sari pun langsung menghubungi Lia dan Sinta. Sari pun tak lupa untuk menelfon Ghigan namun sejak kemarin tak ada satu pun balasan darinya.

Di malam harinya,  Sari masih berusaha menghubungi Ghigan. Setelah sekian panggilan yang keluar, ia pun berinisiatif untuk menemui Ghigan. Sari pun segera bersiap-siap untuk pergi menuju tempat Ghigan kumpul bersama geng nya. Sari pun pamit kepada kedua orang tuanya untuk pergi sebentar.

***

Sesampainya di sana,  senyuman lebar yang semula Sari tunjukkan pun menyusut. Kegembiraan yang ingin diluapkan pun tertutup. Sebuah goresan yang begitu dalam baginya ketika melihat orang yang sangatlah ia sayang sedang bersama wanita lain. Tangis pun pecah bersama amarah dan kekecewaan. Entah bagaimana bisa, Sari berusaha setia namun dibalas dengan luka. Sari pun menghampiri nya.

Plakkkk…

Yaps, Sari menampar wajah Ghigan yang membuat Ghigan merasa marah. Ghigan pun mencengkam tangan Sari begitu kencang hingga Sari pun meringis kesakitan.

“Lepasin ia.” Suara tersebut terdengar dari seorang pria yang tidak dikenal oleh Ghigan maupun Sari.

Ghigan pun menatap pria tersebut dengan sorotan yang begitu tajam. Ia pun melepaskan genggaman nya kepada Sari. Kini ia tersenyum licik hingga terjadilah perkelahian diantara keduanya. Namun Ghigan pun terjatuh, dan segera pergi bersama wanita lain meninggalkan Sari dan juga pria itu.

“Kamu tidak apa-apa?” tanya pria itu yang kemudian menjulurkan sebotol air mineral kepada Sari.

Sari pun lari menuju tengah jalan. Ia sungguh hancur dengan hal itu sehingga merasa bahwa hidupnya tak lagi berarti dan ia pun ingin menghabiskan hidupnya begitu saja. Namun hal tersebut dicegah oleh pria itu yang menarik Sari menuju tepi jalan.

“Kamu bisa cerita sama saya,” kata pria tersebut berusaha menenangkan.

Sari pun mengeluarkan semua hal yang dipikir dan dirasakannya tanpa memperdulikan siapa pria itu. Hingga ia pun berhenti dan pria tersebut pun meminta Sari untuk minum terlebih dahulu. Dan kini Sari mulai merasa tenang, ia baru sadar bahwa kini ia bersama pria asing.

Baca juga  Sejarah Ondel-Ondel

“Elu siapa?” tanya Sari yang tak nyangka bahwa sejak tadi ia bersama pria yang tak dikenalnya.

“Sebelumnya saya minta maaf karena membuat kamu tidak nyaman, saya Dzai. Saran saya, lebih baik kamu menuruti apa permintaan dari orang tua mu sebab mereka yang paling mengerti kamu dan saya juga yakin bahwa mereka ingin yang terbaik untuk mu.”

Kata-kata Dzai membuat Sari tersenyum dan merasa lega. Meskipun ia baru mengenalnya, entah mengapa ada rasa yang tak bisa dijelaskan.

“Alhamdulillah, sepertinya kamu sudah baikan. Sekarang kamu pulang ya, ini sudah malam jadi tidak baik wanita keluar malam-malam. Saya pergi dulu ya.” Ucap pria tersebut yang kemudian melangkah pergi meninggalkan Sari.

“Terimakasih!” seru Sari yang dibalas senyuman oleh pria tersebut.

***

Malam itu, ketika Sari sampai di rumah Sari pun langsung memberitahukan kepada kedua orang tuanya tentang keputusan nya yang diubah. Sari mengikuti saran dari Dzai dan memutuskan agar ia tetap bersama dengan keluarganya dan mematuhi kedua orang tuanya.

Keesokan harinya, Sari bersama dengan keluarganya pun bersiap-siap untuk pergi ke luar kota. Sari pun setuju untuk mondok di pesantren milik teman ayahnya. Lia dan Sinta merasa sedih karena harus berpisah dengan sahabatnya. Namun Sari berjanji bahwa kelak ia akan kembali ke Jakarta. Mendengar hal tersebut tentu saja Lia dan Sinta merasa tenang. Mereka pun berpelukan sebelum Sari pergi bersama keluarganya.

***

Tiga tahun berlalu, Sari bersama keluarganya pun kembali ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta, Sari pun langsung berkumpul dengan Lia dan Sinta di sebuah cafe. Kali ini, kedua orang tuanya ikut bersama dengan Sari untuk berjumpa dengan kedua sahabatnya. Tanpa disadari, Sari berjumpa kembali dengan pria yang dahulu membuka pandangannya. Sari pun menghampiri pria tersebut yang sedang kumpul dengan keluarganya juga.

“Assalamualaikum, masih kenal sama saya kan?” kata Sari kepada Dzai yang disambut hangat oleh Dzai dan keluarganya.

Keluarga Dzai pun gabung makan bersama dengan keluarga Sari dan juga sahabatnya. Ternyata Dzai telah menyukainya sejak pertama bertemu, begitu pula dengan Sari. Namun Dzai tidak ingin pacaran, oleh karena itu ia menunggu Sari bersama doa hingga akhirnya mereka dipertemukan kembali atas izin-Nya hingga Dzai pun melamar dan menikahi Sari. Sari pun kini hidup bahagia bersama dengan Dzai dan keluarganya serta sahabatnya.