Konsep Edukasi Terpadu Masyarakat Untuk Lingkungan Ramah Anak

Konsep Edukasi Terpadu Masyarakat Untuk Lingkungan Ramah Anak

Nyoret.com – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang pertama, yakni Bapak Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau yang lebih dikenal dengan Ki Hadjar Dewantara pernah mengatakan bahwa sejatinya “setiap orang menjadi guru dan setiap rumah menjadi sekolah”.

Kalimat tersebut memiliki banyak pesan, yang mungkin sebagian orang memahami bahwa sumber belajar itu beragam dan bisa dari mana pun. Penulis sendiri menginterpretasikan bahwa yang dimaksud adalah bagaimana setiap lingkungan harus menjadi tempat yang baik bagi perkembangan intelektual masyarakat khususnya generasi muda, termasuk diantaranya moral dan mental.

Kita paham betul bahwa lingkungan sangat mempengaruhi kepribadian anak, dalam hal ini adalah lingkungan dalam bersosialisasi. Lingkungan sosial menurut Purwanto (2009) ialah semua orang atau manusia lain yang mempengaruhi kita, baik secara langsung maupun tidak langsung. Ada tiga lingkungan umum yang biasa kita sebut, yakni lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.

Dewasa ini satu lingkungan baru yang peran dan pengaruhnya sudah sangat nampak, dan ini juga mesti kita sebut, yakni lingkungan media sosial. Keempat lingkungan ini adalah kunci yang sangat penting bagi generasi masa depan Indonesia terutama dalam membentuk kualitas moral dan kesehatan mental anak.

Kemudian muncul fakta-fakta meresahkan terkait lingkungan-lingkungan yang tadi disebutkan. Misal, fakta kekerasan anak di kelurga, bullying di sekolah, pergaulan tidak sehat di masyarakat, dan terakhir adalah tindak kejahatan digital di media sosial. Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemenpppa) dari 1 Januari-24 Juli 2020 saja terdapat lebih dari empat ribuan laporan kekerasan terhadap anak.

Belum lagi menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pengaduan kasus pornografi dan kejahatan siber yang menjerat anak-anak mencapai 679 kasus pada 2019. Untuk bullying baik di pendidikan maupun sosial media, angkanya mencapai 2.473 laporan dan trennya terus meningkat.  BNN selaku focal point di bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) mengantongi angka penyalahgunaan narkoba tahun 2017 sebanyak 3.376.115 orang pada rentang usia 10-59 tahun.

Sedangkan angka penyalahgunaan Narkoba di kalangan pelajar di tahun 2018 (dari 13 ibukota provinsi di Indonesia) mencapai angka 2,29 juta orang. Salah satu kelompok masyarakat yang rawan terpapar penyalahgunaan narkoba adalah mereka yang berada pada rentang usia 15-35 tahun atau generasi millennial.

Baca juga  Stop Nggak Peduli! Kita Darurat Air Bersih

Perlu adanya tindakan serius dan penanganan yang konsisten terkait data tadi. Anak-anak Indonesia adalah penerus dan pengisi tanah air ini. Apabila proyeksi ke depan ingin menjadikan Indonesia emas, unggul dan berdaya saing, tentu harus dimulai dari sekarang dan dari generasi yang paling muda, termasuk diantaranya anak-anak.

Menciptakan lingkungan terdidik adalah solusi akan rusaknya lingkungan-lingkungan yang sehat bagi anak. Penulis meyakini bahwa lingkungan terdidik tidak dapat berdiri dan kokoh sendiri, ia harus diciptakan, ia harus dikonsep. Kondisi pandemi seperti saat ini, lingkungan sekolah dan masyarakat memang dibatasi, tapi lingkungan keluarga dan media sosial justru menjadi pilar kehidupan baru bagi anak. Dan ke depan setelah pandemi ini usai keempat komponen lingkungan ini akan kembali bersatu dan menjadi titik balik yang belum kita ketahui, apakah lebih baik atau malah sebaliknya?

Lalu timbul pertanyaan, bagaimana caranya menciptakan lingkungan terdidik yang cakupannya tidak hanya di lingkungan sekolah? Perlu adanya integrasi dalam membentuk lingkungan terdidik dari berbagai komponen lingkungan sosial manusia, termasuk diantaranya adalah pemerintah, komunitas pendidikan, dan komunitas serta organisasi lainnya.

Komponen-komponen ini harus saling tumbuh dan terintegrasi menjadi sebuah payung yang tidak hanya melindungi anak-anak dan generasi muda pada setiap wilayah, namun juga menjadi sumber-sumber edukasi. Pemerintah yang memang bertugas memimpin daerahnya harus menjadi pionir dalam membentuk kebijakan-kebijakan yang dapat dirasakan langsung oleh warganya.

Misal dalam hal ini adalah pemerintah desa atau kelurahan yang potensi kedekatan dengan masyarakatnya sangat besar karena memang benar-benar hidup berdampingan dengan masyarakat. Pemerintah desa dengan seluruh jajarannya sampai pada struktur paling bawah yakni rukun tetangga dan rukun warga harus saling satu padu membuat program-program edukasi ke warganya.

Kucuran dana desa dari Pusat harus benar-benar dimanfaatkan sebaik mungkin untuk kemaslahatan dan kesejahteraan masyarakat, termasuk dalam membentuk lingkungan terdidik. Organisasi masyakat, lingkungan, perguruan tinggi, lembaga pendidikan dasar dan menengah, himpunan pengusaha, pesantren, sanggar seni dan sebagainya dapat menjadi kolega yang luar biasa bagi pemerintah desa dan masyarakat luas.

Baca juga  Mahasiswa Pecinta Sunmori Wajib Tahu: Hindari Isi Bensin di Siang Hari!

Apabila semua dirangkul dan dibentuk tim dalam upaya edukasi dalam berbagai bidang, bukan tidak mungkin segala macam permasalahan lingkungan dapat terselesaikan dan selanjutnya dampak-dampak positif dapat dirasakan oleh masyarakat. Edukasi yang dilakukan dapat berupa seminar parenting, edukasi penggunaan media sosial, perlombaan anak, kegiatan seni, workshop ekonomi, workshop lingkungan, bedah film, kerajinan tangan dan sebagainya.

Sebagai bentuk masukan, langkah-langkah yang dapat diambil dalam membuat kebijakan edukasi terpadu masyarakat dapat dilakukan sebagai berikut:

#1 Membentuk tim khusus edukasi terpadu masyarakat tingkat desa atau kelurahan

Pemerintah desa membentuk tim dengan berbagai macam perwakilan komunitas atau organisasi yang sebelumnya sudah sepakat bekerja-sama. Maka dari itu, agar tim ini memenuhi berbagai bagian aspek yang diperlukan masyarakat maka pemerintah harus melakukan cara-cara persuasif agar banyak komunitas dan organisasi yang mau kerjasama dengan segala keikhlasannya dalam membentuk lingkungan terdidik bagi masyarakat.

#2 Merancang program kerja edukasi terpadu masyarakat

Seperti yang sudah diulas pada paragraf sebelumnya, program kerja edukasi yang dapat dilakukan antara lain seminar parenting, edukasi penggunaan media sosial, edukasi kesehatan, perlombaan anak, kegiatan seni, workshop ekonomi, workshop lingkungan, bedah film, kerajinan tangan dan kegiatan positif lainnya. Tim dapat membagi program kerja berdasarkan bidang masing-masing, misal bidang pendidikan anak, keluarga dan masyarakat. Bidang kesehatan, ekonomi kreatif dan teknologi. Bidang keagamaan dan bidang-bidang lainnya.

3# Merancang struktur pelaksanaan

Pada poin ini, tim yang sudah dibentuk dan sudah menetapkan kegiatan apa saja yang akan dilakukan harus merancang struktur pelaksanaannya agar waktunya tepat dan sesuai. Sehingga setiap kegiatan dapat dihadiri oleh banyak peserta atau partisipan dari berbagai unsur masyarakat yang disesuaikan dengan kebutuhan. Apabila pesertanya anak-anak maka dapat dilaksanakan pada saat libur atau bekerja sama dengan sekolah-sekolah atau pesantren-pesantren agar tidak terjadi tumpang tindih program.

Sosialisasi

Bentuk kerjasama yang dilakukan sebenarnya tidak terbatas pada pemerintah desa dan organisasi atau komunitas saja, tetapi juga pada masyarakat secara keseluruhan di wilayah tersebut. Maka sosialisasi program edukasi ini sangat penting dilakukan sebagai bentuk informasi agar masyarakat paham mengapa kebijakan ini dilakukan.

Baca juga  Greatest Memory of Lagu Dolanan Anak "Pitik Walik Jambul" Ciptaan Ki Bagus Hadi Sukanto

Pelaksanaan

Teknisnya dapat sangat fleksibel sebetulnya, tergantung dari program edukasi seperti apa yang ingin dilakukan. Misal jika dilakukan seminar parenting maka dapat dilakukan di aula desa/di sekolah/ masjid/ atau bahkan rumah warga. Begitu pun dengan jenis program lainnya.

Evaluasi pelaksanaan

Evaluasi dilakukan secara khusus pada setiap kegiatan dan secara umum pada keseluruhan program. Evaluasi adalah bentuk perbaikan yang melibatkan seluruh tim berdasarkan fakta lapangan pada saat kegiatan dan perubahan-perubahan sosial yang terjadi setelah diadakannya beragam kegiatan edukasi.

Tindak lanjut

Terakhir, setelah program dan evaluasi sudah dilakukan maka dilakukan pola pengulangan. Kegiatan ini dilakukan secara simultan sampai pada akhirnya masyarakat terbiasa dan mereka mampu memberikan edukasi mandiri kepada masing-masing keluarganya, saudaranya, tetangganya dan semua yang bersinggungan dengan hidup mereka. Kegiatan ini juga mampu menjadi contoh bagi desa-desa atau kelurahan lainnya.

Setelah semua selesai, diharapkan akan ada banyak perubahan positif dalam kehidupan masyarkat baik dalam segi pola pikir, ekonomi, kesehatan dan sebagainya. Harapan tersebut kemudian akan berefek domino pada anak-anak atau remaja baik secara pergaulan, kualitas moral dan juga kesehatan fisik dan psikis mereka.

Di rumah, mereka diberikan perhatian, kasih sayang dan juga kepercayaan. Di sekolah mereka memiliki minat belajar baik, bergaul dengan banyak teman dan menjunjung tinggi toleransi sehingga tidak ada lagi bullying yang terjadi. Di masyarakat mereka mendapatkan rasa aman dan nyaman dalam bermain dan dalam berekspresi. Kehidupan mereka di masyarakat penuh dengan nilai-nilai edukatif tanpa merusak jam-jam bermain mereka bersama teman-temannya. Apabila itu sudah terjadi maka istilah setiap orang menjadi guru dan setiap rumah menjadi sekolah bukan lagi hanya sebatas quote belaka.

 

Daftar Pustaka

Purwanto. (2009). Evaluasi hasil belajar. Surakarta. Pustaka belajar.