Istilah yang Tepat Untuk Babi Ngepet di Depok

Istilah yang Tepat Untuk Babi Ngepet di Depok

Nyoret.com – Pertama kali melihat headline berita yang memberitakan ada berita babi ngepet di Depok, jujur saya merasa itu hanya alay-alaynya media kita yang kerap melebih-lebihkan informasi. Tapi kok lama-lama jadi serius. Kok ini berita diterusin, sampai viral di twitter bersandingan dengan isu penangkapan Munarman pula. Hebat betul pesona ini babi sampai “sama penting” dengan isu terorisme.

Akan tetapi lama-lama saya perhatiin ternyata memang penting rupanya berita tentang babi ngepet ini. Berita ini jadi unik karena terjadi di Depok, kota metropolitan yang menjadi penyanggah ibu kota.

Supaya lebih jelass di mana letak anenhnya maka perlu bagi kita mengetahui istilah kampungan dan kotaan.

Istilah kampungan biasa ditujukan kepada anak kampung yang bergaya sederhana dan kerap berlebihan menanggapi hal-hal yang berbau kota. Kalau ada anak kampung yang excited di ajak ke mall, nah itu dia kampungan berarti.

Bagi orang kota, mall adalah hal yang biasa. Mereka bisa main ke mall kapan pun mereka mau. Tak perlu punya duit mereka bisa main ke mall. Sedangkan bagi anak kampung mall adalah hal yang jarang ditemukan. Mereka harus ke kota dulu supaya bisa masuk mall.

Nah, kotaan itu gak beda-beda jauh sama kampungan. Hanya saja bentuknya aja yang berbeda. Intinya ya sama, kaget dengan hal-hal yang jarang ditemukan di kota. Kalo kalian masih bingung dengan istilah kotaan coba deh ajak anak kota main ke kampung. Kalo mereka ngajak foto di sawah berarti dia kotaan.

Sebagaimana mall bagi orang kota, sawah adalah hal biasa bagi orang kampung yang setiap hari mereka lihat. Tapi, bagi orang kota sawah adalah sesuatu yang unik lagi indah. Makanya ada saja orang kota yang berkata, “hidup di kampung enak ya, tiap hari bisa lihat sawah”.

Baca juga  Kisah Abu Nawas Mengajarkan Perspektif Kepada Muridnya

“Hey bujang! Maculnya juga enak lho. Emang kau pikir sawah itu tiba-tiba muncul aja gitu. Simsalabim abracadabra, jadi sawah”. Tiba-tiba jadi esmosi saya. Maklum, saya kampungan, bukan kotaan.

Tapi baik itu kampungan atau kotaan sebenarnya masih sangat wajar terjadi. Toh, sudah kodratnya manusia akan kaget  dengan sesuatu yang baru saja ia lihat.

Akan tetapi yang terjadi di Depok itu benar-benar aneh bin ajaib. Kok bisa ada orang kota yang masih percaya sama babi ngepet. Harusnya itu kan terjadi di kampung-kampung. Bahkan di kampung sekalipun sudah banyak yang tidak percaya babi ngepet. Jadi herman saya.

Sebagai seorang yang mengaku akademisi saya akan mencoba untuk menganalisis kok bisa ya orang Depok percaya sama babi ngepet.

#1 Orang Kampung yang Hidup di Depok

Analisa pertama adalah sama seperti yang kalian pikirkan. Mungkin saja orang-orang yang menangkap hewan yang dipercaya babi ngepet itu adalah orang kampung yang datang ke Depok. Makanya ketika melihat ada orang yang “tidak bekerja” tapi kok kaya, mikirnya pasti klenik.

Nahasnya ada babi pula yang lewat di situ. Melihat ada babi yang berseliweran di sekitar rumah warga maka muncullah rasionalisasi ala orang kampung. Ada orang kaya yang tidak bekerja. Ada babi mondar-madir kampung. Lengkap sudah. Pasti orang itu kaya karena dia jadi babi ngepet. Begitulah kira-kira rasionalisasi ala orang kampung seperti di video wawancara seorang ibu-ibu yang beredar di twitter.

#2 Atau Depok itu Memang Kampung

Analisa selanjutnya adalah jangan-jangan Depok memang masih kampung. Nyatanya yang mengejar ntu babi dan menganggapnya sebagai babi ngepet tidak hanya satu-dua orang. Melain satu komplek. Apa coba kalau tidak kampung.

Baca juga  Cara Abu Nawas Mengajarkan Bersyukur Pada Si Miskin

Kalau memang begitu, maka sangat wajar ketika ada fenomena tersebut, maka satu-satunya rasionalisasi, ya magis. Tidak bisa tidak. Pokoknya babi yang lewat itu pasti babi ngepet. Begitulah cara orang kampungan menyelesaikan masalah.

Tapi, aneh pula rasanya menyebut Depok itu kampung. Depok itu kota lho. Di sana ada Universitas Indonesia, tempat yang dipercaya simbol intelektualitas bangsa. Depok itu “de” pada kata Jabodetabek. Kurang kota apa coba.

“Tapi kan itu terjadi Sawangan beda dong sama Margonda yang kota.”

“hey bujang! Sekampung-kampungnya Sawangan ya bukan kampung. Listrik nyala 24 jam, indomaret di mana-mana bahkan ada McD Sawangan toh. Berarti masih kota dong.”

Saya tidak tahu harus menyebut apa pada kasus babi ngepet Depok. Kalau disebut kampungan tapi yang ngelakuin orang kota. Disebut kotaan juga kurang pas konteksnya. Apa boleh disebut Depokan aja?