Gadis Kecil yang Menangis Diantara Gundukan Tanah

Gadis Kecil yang Menangis Diantara Gundukan Tanah

Nyoret.com – Hari ini hari raya. Semua orang sudah menyiapkan sajian makanan dari jauh-jauh hari, termasuk rengginang yang menjadi hidangan tetap dalam kaleng Khong Guan. Meskipun begitu, rumah-rumah warga tampak sepi. Tak ada lalu-lalang warga melintas di jalan. Pasar lengang. Tempat-tempat umum senyap. Desa ini seperti tak berpenghuni. Hanya lirih embus angin membelai daun-daun perdu dan menerbangkan kertas sisa petasan anak-anak malam takbir kemarin. Yah, petasan itu terbuat dari lipatan kertas koran dan di dalamnya terisi semacam bubuk peledak.

Seorang gadis kecil menangis di sebelah batu nisan. Ia meraung di atas gundukan tanah yang masih basah. Ternyata tak hanya warga yang sedih dengan keadaan ini, dia juga, bahkan lebih menyedihkan. Bajunya tambal-sulam. Rambutnya terikat asal. Sepatunya kumal. Kedua tanganya menutupi wajahnya. Dia terisak.

“Selamat hari raya Idul Fitri, Pak!”  gumam Manik

Bagi Manik hari raya dengan hari biasa tidak ada bedanya, semua sama saja. Tidak ada yang istimewa sampai seorang laki-laki meletakkan tangannya di atas kepala si gadis lalu mengusap-usapnya. Laki-laki—Kasman, warga desa yang menjadi TKI di Malaysia— itu duduk sejajar dengan Manik sebelum matanya beredar ke makam desa. Yah, niatnya kemari memang untuk ziarah ke makam bapak Manik setelah dipulangkan pemerintah ke kampung halaman satu bulan yang lalu,.

Kasman dikagetkan dengan berita meninggalnya Midi, bapak Manik. Terdengar desas-desus warga yang membicarakan kematiannya. Ada yang beranggapan bahwa Midi tidak terkena wabah, memang semua orang meninggal—dalam masa pandemi—akan di masukkan dalam peti layaknya orang yang terinfeksi. Tapi gejala yang dialami Midi menunjukkan tanda-tanda tepapar virus.

Waktu itu, saat Midi bangun tidur dan mendapati dadanya sesak. Hidungnya berair dan ia batuk-batuk selama empat jam sebelum kemudian menelepon rumah sakit. Petugas tiba tiga puluh empat menit setelah itu. Petugas itu berjumlah empat orang. Mereka mengenakan baju hazmat dan membawanya ke rumah sakit. Hingga akhirnya pertanyaan warga terjawab saat salah satu buruh Midi juga dinyatakan positif terinfeksi.

Sebelum merantau ke Malaysia, dulunya Kasman dekat dengan keluarga Manik. Setiap harinya Kasman kerja menjadi buruh angkat barang di toko milik Midi. Namun, setelah menikah ia ikut kakak iparnya menjadi kuli bangunan di Malaysia dengan janji bayaran yang berkali lipat. Ternyata sama saja, gaya hidup di nagara orang terasa mahal.

Pandangan Kasman kembali pada Manik. Ia yakin gadis ini sedang menangis. Ia berniat mengajak bicara Manik, tentang apapun, karena Kasman yakin yang dibutuhkan untuk anak seusianya hanyalah teman.

“Nduk, apa yang membuatmu menangis? Bukankah ini hari raya?” ucap Kasman mencoba  mengajak gadis itu berbicara.

Manik menatap Kasman dengan tatapan heran, sejak kapan Kasman kembali ke kampung halaman, bukankah Kasman tidak bisa pulang karena pandemi. Tapi Manik tidak mau tahu, toh tidak ada yang peduli lagi dengannya.

“Nduk?”

“Jangan berisik, Paman. Biarkan aku sendiri. Aku sedang berdoa….”

“Baiklah, tapi berceritalah dulu. Barangkali aku bisa membantumu, Nduk!” Kasman tetap bersikeras bertanya, padahal ia sudah tahu apa yang terjadi. Ia hanya ingin mengajak Manik paham akan keadaan, yang lalu biarlah berlalu, ada yang lebih penting daripada larut dalam kesedihan. Hidup masih berlangsung dan barangkali suatu saat nanti  ada yang lebih berat lagi dari ini.

Manik lalu bercerita: dia menangis sebab tidak lagi memiliki bapak. Wabah telah merengut orang yang ia sayangi. Sebelum wabah ini, hidupnya baik-baik saja. Midi dapat keluar masuk pasar tanpa kecemasan, sesekali Manik membantu bapaknya bekerja dengan melayani pembeli di tokonya, dan mungkin jika bapaknya masih hidup, ia akan di belikan baju lebaran yang ia inginkan. Ternyata tuhan berkehendak lain.

“Bapakku terinfeksi virus COVID-19 setelah kembali dari pasar. Pulang dari sana, bapak tidak mau berdekatan denganku dengan alasan ia habis dari kerumunan. Dan besoknya, bapak dijemput orang-orang bermantel putih ….”

Kasman tak ingin melewatkan sedetik pun cerita tangis dari gadis mungil di hadapannya. Manik menceritakan semua, termasuk tetangganya yang mengacuhkannya. Layaknya hidup dalam hutan belantara, Manik seperti dijauhi semua orang semenjak bapaknya dinyatakan terinfeksi. Mungkin, semua khawatir akan tertular. Padahal, Manik sudah menjalani karantina selama dua minggu.

“Bibi Yeti kemana?” tanya Kasman

Kasman ingat dengan istri Midi, pasalnya saat ia berangkat merantau dulu, keluarga mereka yang mengantarkannya ke bandara Juanda.

“Kata bapak dulu, ibu ikut merantau dengan paman. Tapi yang ku dengar dari ibu-ibu PKK, ibuku menikah lagi dengan laki-laki lain. Seperti yang paman lihat sekarang. Aku terlihat begitu menyedihkan, tidak punya keluarga, compang-camping, kelaparan, merintih dan luglai. Maka ketika teman-temanku bergembira di hari raya, aku menginggat bapakku. Aku berdoa untuknya, Paman ….” jawab  Manik

Kasman terlihat berkaca-kaca mendegar kisah gadis kecil itu dan tak henti-hentinya membelai rambut Manik.

 

“Jika Manik begini terus, bapak nggak tenang di sana. Manik harus ikhlas.” Kasman tersenyum meyakinkan ucapannya.

 

Memang hidup Midi yang berhenti. Namun hidup banyak orang termasuk Manik semestinya terus berjalan. Manik masih kecil, masa depan masih panjang dan mimpi-mimpinya harus terwujud. Lebih dari itu, penderitaan yang ia tanggung memang selayaknya harus berakhir.

“Bibi kemana?” tanya Manik mengagetkan Kasman. Ternyata ingatan Manik masih kuat. Dulu waktu kecil, memang istri Kasman yang mengurus Manik, sampai-sampai Manik sering ketiduran di rumahnya hingga terbangun di pagi hari.

 

“Bibi bernasib sama seperti bapakmu, Nduk. Tapi bedanya paman kehilangan dua orang yang paman sayangi; bibimu dan calon anak paman.”

 

Kasman merengkuh tubuh Manik, menggandengnya dan mengajaknya ke rumah miliknya. Setibanya di rumah, Kasman memberinya makan, pakaian baru dan menjadikan Manik sebagai anaknya. Kebahagian baru datang dalam kehidupan Manik.

 

***

 

Setelah berapa lama, cerita tentang mereka tedengar kembali, gadis itu kembali menangis terisak di antara gundukan tanah; makam Midi dan Kasman.

 

“Virus itu kembali merenggut semua yang aku miliki. Aku sekarang menjadi asing dan yatim lagi” jerit Manik hingga kesadarannya pergi bersama matahari senja yang hilang di balik awan.

 

***