Azyumardi Azra dalam Kebhinnekaan Indonesia

Azyumardi Azra dalam Kebhinnekaan Indonesia

Nyoret.com – Nama Azyumardi Azra sudah tidak asing lagi bagi kalangan aktivis mahasiswa, terutama kalangan HMI. Ia merupakan salah satu nama cendekiawan muslim yang fokus membahas masalah kajian keagamaan baik dari sisi historis maupun kontemporer dan juga merupakan guru besar dari prodi Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri Syarif Jakarta (UIN Ciputat).

Dikutip dari artikel Jurnal Ilmiah Cakrawala dengan judul Perkembangan Tradisi Keilmuan Islam dan Gerakan Pemikiran: Islam Madzhab Ciputat dan Himpunan Mahasiswa Islam, menyebutkan bahwa Azrumardi Azra dikenal sebagai salah satu tokoh pembaharu keislaman, ia kemudian memperkenalkan suatu gagasan pemikiran Islam dalam perspektif tarbiyah (dakwah dan pendidikan). Sehingga menciptakan gerakan reformis Islam melalui kebangkitan para cendekiawan muslim melalui proses dialektikanya (Cipta & Riyadi, 2020).

Salah satu tokoh yang menginspirasi adalah Harun Nasution mantan rektornya sendiri, hal tersebut ketika Azra menjadi rektor UIN Jakarta selama tahun 1998-2006 dengan mengikuti gaya kepemimpinan dari Harun Nasution.

Kemampuan Azyumardi Azra dalam memahami konteks sejarah dan pemikiran Islam merupakan bekal dirinya ketika ia masih menjadi wartawan di Panji Masyarakat pada masa periode 1980-an hingga akhirnya, ia dapat melanjutkan jenjang pendidikannya ke Columbia University melalui program beasiswa. Ia sudah mengenal dunia tulis-menulis sejak mahasiswa. Sebelum lulus dari IAIN Jakarta, Azyumardi telah terjun di dunia jurnalistik, Di bidang jurnalistik, Azyumardi terhitung penulis yang produktif.

Hingga saat ini, dia tetap mempunyai agenda khusus, paling tidak, di dalam sehari, ia perlu menulis. Itu merupakan sebuah kebiasaan wajib yang terus dilakukan oleh Azyumardi Azra. Bahkan ketika ia menjadi rektor disela kesibukannya terus menghasilkan beberapa karya ilmiah baik berupa esai maupun artikel ilmiah dan juga aktif di kegiatan konferensi-konferensi juga seminar.

Banyaknya karya yang dihasilkannya, Azra merupakan satu-satunya cendekiawan muslim dan juga sejarawan muslim yang mendapatkan gelar “Sir” karena sumbangsih berupa pemikirannya dalam membentuk hubungan bilateral antara UK-Indonesia melalui narasi-narasi sejarah yang dihasilkannya dikutip dari Tirto.id dengan judul artikel Azyumardi Azra: Sejarawan Islam dan ‘Sir’ Pertama dari Indonesia.

Dalam konteks keilmuan Islam Indonesia, pemikiran Azra dalam disertasinya ini bisa dibilang sangat signifikan, terutama karena ia merupakan sarjana pertama yang menyelidiki sejarah sosial dan intelektual ulama, berikut jaringan keilmuan dan pemikiran keislamannya di Indonesia, khususnya dalam kaitannya dengan perkembangan pemikiran Islam di pusat-pusat keilmuan Islam di Timur Tengah dan Indonesia (Hakim, 2017).

Posisi dari corak kepenulisan Azra jika dilihat ia berusaha agar terhindar dari subjektivitas sejarah dan selalu menempatkan Islam sebagai ideologi yang universal bukan sebagai sesuatu yang bersifat dogmatis. Sehingga kajian-kajiannya dapat diterima oleh semua kalangan. Bukan hanya itu, saja Azra kemudian mengkaji tentang sejarah agama lain di luar dari konteks keislaman.

Sebagai contoh dalam tulisannya yang berjudul Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia yang merupakan sebuah tulisannya ketika ia mengisi acara International Seminar Encountrs of Christians and Muslims in History and Present Time Indonesia yang diselenggarakan oleh Nurcholis Madjid Society pada Januari tahun lalu. Dalam ceramahnya tersebut, Azra mengatakan, bahwa perjumpaan agama-agama, terutama antara Islam-Kristen sebagai agama yang paling besar sekaligus berpengaruh di dunia selalu diawali dengan munculnya kelompok fundamentalisme antar pemuka agama yang kemudian memicu gelombang kekerasan sehingga munculnya gerakan sekularisme sebagai bentuk anti-thesis dari kelompok fundamentalisme tersebut (Azra, Perjumpaan Kristen Dan Muslim Dalam Sejarah Dan Di Indonesia Kini, Januari 10, 2020).

Namun, berbeda halnya di Indonesia perjumpaan agama-agama di Indonesia itu dilatarbelakangi oleh dua faktor yakni pertama melalui proses historis dengan menjadikan perdagangan sebagai kegiatan penyebaran agama. Bisa dilihat dengan sejarah proses Islamisasi yang didominasi melalui perdagangan, atau VOC yang membawa semangat protestanisme di Indonesia. Sebelum terjadinya, perjumpaan Islam-Kristen telah terjadi perjumpaan terhadap agama lain atau agama dengan budaya setempat.

Sebagai contoh,  di Jawa lahirnya Kristen Jawa merupakan hasil dari perpaduan Budaya Jawa dengan Kekristenan yang kemudian dipopulerkan oleh Kiai Sadrach pada awal Abad ke-19 dan memang pada hakikatnya sudah terlebih dahulu perjumpaan agama-agama non Abrahamic yakni antara agama Hindu-Budha dengan kebudayaan Jawa (Cipta, 2020) . Kemudian faktor kedua karena adanya relasi kekuasaan yang terkadang menimbulkan konflik bukan hanya antar sesama kalangan agama melainkan dengan negara. Sebagai contoh kasus peristiwa Tanjung Priok 1984 dan Talangsari 1989, dimana saat itu kelompok Islam seakan dihabisi oleh negara karena keenganan pemerintah saat itu terhadap partisipasi Islam sebagai politik.

Setelah jatuhnya kekuasaan Orde Baru terjadinya peristiwa Bom Bali 1 & 2 pada awal 2000 an, sebagai momentum ‘kemarahan umat’ atas apa yang telah dilakukan oleh Soeharto kala itu. Sekalipun di menjelang jatuhnya pada tahun 1990 Soeharto selalu berusaha untuk mendekatkan kembali dengan Umat Islam dengan menunjuk Habibi sebagai tokoh cendekiawan muslim berpengaruh dan juga pendirian ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim) sebagai bentuk untuk mendapatkan kembali Islam sebagai kekuatan politiknya.

Dari ilustrasi di atas merupakan tambahan dari penulis mengenai kajian Azra terkait dengan perjumpaan Islam-Kristen. Meskipun demikian tulisan-tulisan yang dilakukan oleh Azra sebagai bentuk kesadaran akan pentingnya nasionalisme bila dikaitkan. Tulisan-tulisan yang dipublikasikan oleh Azra secara keseluruhan sangatlah disusun secara kronologis yang menjadikan Azra sebagai salah satu sejarawan Islam terkemuka dan berbeda corak pemikirannya dengan para sejarawan ‘nasionalis-sekuler’ sebagai contoh Sartono Kartodirjo, dkk.

Tidak hanya melalui tulisan, upaya Azra dalam mewujudkan semangat nasionalisme terjadi ketika ia menjadi rektor UIN dengan menjadikan organisasi ekstra HMI, PMII, dan IMM untuk diperbolehkan melakukan kaderisasi di dalam lingkungan kampus untuk membentuk semangat nasional dan kebhinekaan yang berlandaskan Islam. Kemudian Juni 2018, Azra kembali mengingatkan pentingnya keberadaan organisasi mahasiswa ekstra kampus. “Kembalikan organisasi ekstra mahasiswa seperti HMI, PMII dan IMM ke kampus, sehingga mengurangi dominasi organisasi Islam kanan, Apa yang tuliskan oleh Azra dalam cuitan akun twitter pribadinya karena akhir-akhirnya munculnya dominasi kekuasaan dari salah satu organisasi ekstra yang dianggap oleh Azra sebagai salah satu organisasi ekstra yang terlampau kanan, sehingga menjadi ketakukan tersendiri bagi Azra saat itu.

 

Referensi

Azra, A. (2020). Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia, International Seminar’ Encounter of Chritians and Muslims in History and Present Time ndonesa, Nurcholis Madjid Society.

Cipta, S. E. (2020). Membangun Komunitas Kristen Kang Mardika. SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora Dan Kebudayaan, 13(2), 65–72. https://doi.org/10.36588/sundermann.v13i2.35

Cipta, S. E., & Riyadi, T. S. (2020). Perkembangan Tradisi Keilmuan Islam dan Gerakan Pemikiran: Islam Madzhab Ciputat dan Himpunan Mahasiswa Islam. Cakrawala: Jurnal Studi Islam, 15(1), 30–45. https://doi.org/10.31603/cakrawala.v15i1.3448

Hakim, L. (2017). AZYUMARDI AZRA SEBAGAI SEJARAWAN ISLAM. Majalah Ilmiah Tabuah. Ta’limat, Budaya, Agama, dan Humaniora, 21(2) DOI: https://doi.org/10.15548/tabuah.v21i2.64. 11–28.

Ridhoi, A. (2018). Azyumardi Azra: Sejarawan Islam dan ‘Sir’ Pertama dari Indonesia. [Online]. Diakses dari https://tirto.id/azyumardi-azra-sejarawan-islam-dan-sir-pertama-dari-indonesia-cL2D, 25 Januari 2020